Salah satu ajaran Iman Para Rasul dan Bapa Gereja Perdana yang terus diwartakan oleh Gereja Katolik adalah bahwa Kristus dan Gereja Katolik adalah SATU dan TAK TERPISAHKAN. Hubungan Kristus dan Gereja Katolik ini dilukiskan dalam dua hal. Pertama adalah Hubungan Kepala dan Tubuh dimana Kristus adalah Kepala dan Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik-Nya. Kedua adalah hubungan perkawinan yang SATU dan TAK TERCERAIKAN dimana Gereja Katolik adalah Mempelai Kristus. Mari kita baca kutipan surat St. Ignatius dari Antiokia kepada umat di Smyrna mengenai kesatuan Kristus dan Gereja Katoliki.

Wherever the bishop appears, let the people be there; just as wherever Jesus Christ is, there is the Catholic Church” (St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrneans 8:2 [A.D. 107]). “Di mana ada uskup, hendaknya umat hadir di situ, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, Gereja Katolik hadir di situ.”

St. Ignatius dari Antiokia adalah Martir dan Uskup. Dia hidup di zaman Para Rasul. Dia adalah murid St. Yohanes Penulis Injil dan menurut tradisi, ia adalah anak kecil yang digendong oleh Yesus sendiri pada perikop Injil Matius 18:1-6.

Tulisan St. Ignatius ini menunjukkan pada kita bahwa Iman akan kesatuan Kristus dan Gereja Katolik adalah Iman Para Rasul dan Bapa Gereja Perdana.

Paus Yohanes Paulus I (Pendahulu Paus Yohanes Paulus II), dalam audiensi umum 13 September 1978, juga menegaskan hal ini dengan berdasarkan pada tulisan St. Paulus.

“Bacalah surat Santo Paulus: “Corpus Christi quod est Ecclesia (Kol:18)”. Kristus dan Gereja adalah hal yang satu. Kristus lah kepala, Gereja lah Tubuh-Nya. Tidak lah mungkin memiliki iman dan berkata, “Aku percaya pada Yesus tetapi aku tidak menerima Gereja.” (Pope John Paul I, General Audience on September 13, 1978)”

Selanjutnya, tidak lupa juga ditegaskan bahwa Gereja Katolik adalah Mempelai Kristus. Dalam hal ini berarti hubungan antara Kristus dan Gereja Katolik digambarkan dalam bentuk perkawinan yang SATU dan TAK TERCERAIKAN. Berikut saya cantumkan isi Katekismus Gereja Katolik 796 yang memuat dasar Kitab Suci dan tradisi Apostolik:

Gereja Adalah Mempelai Kristus (KGK796)

Kesatuan antara Kristus dan Gereja, Kepala dan anggota-anggota Tubuh, berarti juga bahwa kedua-duanya memang berbeda satu dari yang lain, tetapi berada dalam hubungan yang sangat pribadi. Aspek ini sering dinyatakan dengan gambar mempelai pria dan wanita. Bahwa Kristus adalah pengantin pria dari Gereja, telah dinyatakan oleh para nabi, dan Yohanes Pembaptis mengumumkannya (Bdk. Yoh 3:29). Tuhan sendiri menyebut diri sebagai “pengantin pria” (Mrk 2:19, Bdk. Mat 22:1-14; 25:1-13). Sang Rasul melukiskan Gereja dan setiap umat beriman, yang adalah anggota Tubuh Kristus, sebagai seorang mempelai wanita, yang ia tempatkan sebagai “tunangan” Kristus Tuhan, supaya ia menjadi satu roh dengan Dia (Bdk. 1 Kor 6:15-17; 2 Kor 11:2). Ia adalah pengantin wanita tanpa cacat dari Anak Domba tanpa cacat, (Bdk. Why 22:17; Ef 1:4; 5:27), yang “Kristus… kasihi dan untuknya Ia telah menyerahkan diri-Nya,… untuk menguduskannya” (Ef 5:25-26), yang telah Ia ikat dengan diri-Nya melalui perjanjian abadi, dan yang Ia rawat seperti tubuh-Nya sendiri (Bdk. Ef 5:29).

“Seluruh Kristus, Kepala dan Tubuh, satu dari yang banyak… Apakah Kepala yang berbicara atau Tubuh yang berbicara, selalu Kristuslah yang berbicara: Ia berbicara baik dalam peranan-Nya sebagai Kepala [ex persona capitis], maupun dalam peranan Tubuh (ex persona corporis). Apa yang tertulis? ‘Keduanya menjadi satu daging. Itu adalah rahasia yang sangat dalam; saya mengenakannya kepada Kristus dan Gereja’ (Ef 5:31- 32). Dan Tuhan sendiri berkata dalam Injil: ‘Jadi mereka bukan lagi dua melainkan satu daging’ (Mat 19:6). Seperti kamu tahu, ada dua pribadi tetapi di pihak lain hanya satu oleh hubungan perkawinan… Sebagai kepala Ia menamakan diri mempelai pria, sebagai tubuh mempelai wanita” (Agustinus, Psal. 74,4).

Dengan demikian, sudah layak dan sewajibnya kita meyakini bahwa Kristus dan Gereja Katolik adalah SATU dan TAK TERPISAHKAN karena inilah Iman Para Rasul dan Iman Para Bapa Gereja. Dalam tulisan ini, Saya pribadi mengajak semua umat Katolik untuk mencintai Kristus DAN Gereja Katolik sepenuh hati dengan taat pada setiap ajaran Iman dan Moral Kristus dan Gereja Katolik. Saya pun mengajak semua umat Katolik mewartakan ajaran Iman ini sesuai dengan talenta masing-masing kepada setiap orang entah melalui perbuatan, pertanggungjawaban iman dan sebagainya.

Selain itu, Tulisan ini saya buat juga supaya umat Katolik tidak terjebak dalam paham Indifferentisme dan Relativisme Iman yang mengajarkan bahwa semua agama sama-sama menyelamatkan. Paham-paham ini adalah sesat dan telah mereduksi kecintaan umat Katolik kepada Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik dan Mempelai Kristus. Paham-paham sesat ini dapat mematikan evangelisasi dan sebagai akibatnya, banyak jiwa dapat kehilangan keselamatannya.