*24 Januari 2018. Rabu. Pw S. Fransiskus dari Sales, UskPujG (P). 2 Sam 7:4-17; Mzm. 89:4-5,27-28,29-30; Mrk. 4:1-20*

Duduk di perahu yang ditambatkan sedikit ke tengah danau, Yesus membuat diriNya sebagai pusat perhatian orang yang mendengarkan pengajaranNya. Ia bukan dari kalangan kaum terpelajar (Yoh 7:15). Ia tidak pernah bersekolah di sekolah Yahudi ternama di Yerusalem. Ia berasal dari daerah pelosok, Nazaret. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah anak tukang kayu dan bekerja mewarisi pekerjaan ayahNya, Yusuf (Mat 13:55; Mrk 6:3). Tanpa ijin penguasa agama di Yerusalem, Ia mulai mengajar dan melayani di Galilea. Ia berbicara dengan cara yang berbeda. Orang banyak menyukaiNya dan mendengarkan ajaranNya.

Yesus membantu para pendengarNya untuk memahami kehadiran Kerajaan Allah. Menggunakan cara yang lazim digunakan para rabbi dan pengajar kebijaksanaan, Ia menggunakan perumpamaan yang dikenal dan berasal dari peri hidup orang Galilea untuk menyingkapkan kebenaran Kerajaan Allah.  Maka, Ia berbicara tentang benih, tanah, hujan, air, matahari, garam, bunga, ikan, panen, pukat.

Santo Cyrilus dari Alexandria, bapa Gereja abad kedua, 150-215, mendeskripsikan perumpamaan Yesus, ”Perumpamaan adalah kata-kata yang menggambarkan hal-hal yang tak kelihatan, terlebih kebenaran yang ada dalam pikiran dan jiwa. Kebenaran yang tak terlihat mata tubuh, dapat disingkapkan oleh perumpamaan, sehingga dapat dimengerti mata pikiran, dipahami akal budi melalui sarana yang dapat dicerna panca indera, dan seolah-olah kebenaran itu dan disentuh”_  ( _COMMENTARY ON THE GOSPEL OF LUKE 8.5.4_ )

*Adalah seorang penabur keluar untuk menabur*. Tidak mudah menjadi seorang petani pada jaman abad pertama Masehi. Tanah di Palestina kebanyakan berbatu dengan lapisan tanah tipis. Semak membelukar, curah hujan sedikit dan panas terik. Orang juga sering melintas di sepanjang ladang dan menginjak-injak tanaman (Mrk 2:23).   Walau mengalami kesulitan, setiap tahun, petani tetap menabur dan menanam, mempercayai kekuatan benih, dan bergantung pada kemurahan hati alam.

Dengarlah!”_ (Mrk 4:3). Yesus memulai dengan seruan itu saat mengawali pengajaranNya; dan, di akhir Ia kembali berseru, _”Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”_ (Mrk 4:9). Cara untuk menangkap makna perumpamaan adalah dengan mendengarkan, merenungkan dan ‘mencoba memahami’. Orang pasti kecewa bila menganggap perumpamaan suatu ajaran atau doktrik keagamaan yang tersusun rapi, sistematis, siap dilaksanakan dan diajarkan. Perumpamaan selalu mendorong orang untuk mendengarkan, merenungkan dan menemukan kebenaran berdasarkan pengalaman hidup saat ia bergumul dengan, misalnya, benih gandum. Maka, selalu mengundang orang untuk kembali ke sumber kebenaran. Membayangkan diri sebagai petani, misalnya, saat aku mendengarkan sabdaNya, aku berkata, “Benih gandum ini di tanam di dalam tanah, tumbuh. Nah, aku paham makna proses pertumbuhannya!” Dan Yesus mengkaitkan pertumbuhan itu dengan Kerajaan Allah! Pendengar sabdaNya ditantang untuk mengkonfrontasikan hidupnya dengan mendengarkan alam yang sedang berbicara dan menyingkapkan siapa diriNya.

*Kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.*  Ternyata para muridNya tidak mengerti makna perumpamaan tentang penabur dan benih. Yesus tak habis mengerti, _”Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?”_ (Mrk 4:13). Tanggapan atas ketidakpahaman mereka mengundang tanya, _“Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun”_ (Mrk 4:11-12). Tanggapan Yesus merupakan undangan dan tantangan : setiap orang yang berhadapan muka denganNya diajak untuk memasuki lubuk hatinya sendiri dan bertanya, “Apa maknanya bagiku?” Yesus tidak akan membiarkan orang yang ingin berjumpa denganNya pulang dengan tangan kosong, karena, _“Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka”_ (Mrk 4:33).

Saat Yesus bersabda, “kepada orang-orang luar” (Mrk 4:11), Ia memastikan bahwa para muridNya adalah “mereka yang di dalam”, yaitu : mereka yang menerima Dia sebagai Mesias, Hamba Yahwe (Yes 53). Sebagai muridNya, Yesus berharap mereka diberkati, karena hidup bersatu dengan Tuhan, seperti sabdaNya melalui mulut Nabi Yeremia, _” Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!  Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”_ (Yer 17:7-8; Mzm 1:3). Maka, setiap murid yang bersatu denganNya pribadi yang mau merawat benih iman untuk menghasilkan panen belipat ganda : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan (Gal 5:22).

Katekese:
Mengapa angkatan ini mencari tanda?
Santo Yohanes Chrysostomus, 347-407:

Seperti penabur yang secara adil dan tidak membedakan menabur benih ke seluruh jengkal ladang, demikian juga Allah menawarkan rahmat pada semua manusia; Ia menganugerahkan rahmatNya tanpa membedakan kaya dan miskin, bijaksana dan bodoh, malas atau rajin, berani atau pengecut. Ia menyapa setiap pribadi, memenuhi apa yang menjadi bagianNya, walapun Ia telah mengetahui lebih dahulu hasil  yang akan diraih … Lalu, katakan padaku, mengapa begitu banyak benih mati? Bukan karena penabur, tetapi karena tanah yang menerima benih itu – berarti jiwa yang tidak mendengarkan sabdaNya … Walau lebih banyak benih akan mati daripada bertahan hidup, para murid tidak boleh berkecil hati. Karena dengan cara itulah Tuhan tidak akan berhenti menabur benih, walau saat itu Ia telah mengetahui bahwa beberapa tidak akan tumbuh subur. Namun, seseorang bertanya, bagaimana menalar untuk benih yang jatuh di antara semak berduri, atau batu karang, atau di tepi jalan?  Mungkin tidak masuk akal bila kita mengkaitkan hanya antara benih dengan tanah, karena karang yang gersang tak mungkin berubah menjadi tanah yang subur; dan jalan tetap menjadi jalan; serta semak duri, tetap semak duri. Sebaliknya, terkait dengan kehendak bebas dan bimbingan rohani yang bijaksana, cara menabur seperti ini layak mendapat pujian tertinggi. Karena jiwa yang penuh batu karang dapat berubah menjadi tanah yang subur dan kaya. Di antara jiwa-jiwa, tepian jalan dapat menjadi lintasan yang berbahaya dan tak mungkin lagi dapat dilalui, namun juga dapat berubah menjadi ladang yang subur. Semak duri dapat dibasmi dan benih dapat tumbuh dengan kesuburan tinggi. Jika hal semacam ini tak mungkin terjadi, sang penabur tidak akan menaburkan benih. Dan, bahkan, jika tidak terjadi perubahan dalam jiwa, ini bukan kesalahan sang penabur, tetapi mereka yang tidak memiliki kehendak untuk mengubah hati mereka sendiri. Tuhan telah melaksanakan bagian karyaNya” (dikutip dari _GOSPEL OF ST. MATTHEW, HOMILY 44.5.1_ ).

Pada kita ada tantangan : “Apa yang harus aku lakukan untuk menumbuh-kembangkan benih iman padaNya? ”

Et hi sunt, qui super terram bonam seminati sunt: qui audiunt verbum et suscipiunt et fructificant unum triginta et unum sexaginta et unum centum.” – Marcum 4: 20

Salve. ac eko wahyono. canisii seminarium. 1982-1986. 081233052768.  ac.eko.wahyono@gmail.com