*25 Januari 2018. Kamis. Pesta Bertobatnya St. Paulus, Ras (P). Kis 22:3-16 atau Kis. 9:1-22; Mzm 117:1,2; Mrk 16:15-18*

*Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kau aniaya itu*. Titik balik iman Paulus terjadi ketika dalam perjalanan ke Damsyik, ia menerima anugerah penglihatan. Padanya Yesus Kristus, yang ia aniaya, berkenan menyingkapkan diriNya, _”Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu”_ (Kis 22:8). Ia berjumpa dengan Yesus yang telah bangkit, dan ketika ia menganiaya jemaat, ia juga menganiaya Yesus sendiri. Paus Benediktus XVI memaknai pertobatan Santo Paulus :

“Pertobatan Paulus mencapai kematangan dalam perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit. Dalam perjumpaan inilah seluruh hidupnya secara radikal diubah. Apa yang terjadi padanya di jalan menuju Damaskus adalah apa yang diminta Yesus pada bacaan Injil hari ini: Saulus bertobat karena, syukur atas cahaya ilahi, “ia telah percaya pada Injil”. Dalam kepercayaan ini terletaklah pertobatannya dan pertobatan kita: percaya kepada Yesus yang wafat dan bangkit dan membuka diri pada terang rahmat ilahiNya. Saat inilah Saulus mengerti bahwa keselamatan tidak tergantung pada perbuatan baik yang dilakukan untuk memenuhi hukum Taurat, tetapi pada kebenaran bahwa Yesus telah mati juga untuk dirinya yang telah mengejar-kejarNya dan telah bangkit.  Kebenaran iman ini,  yang menjadi terang bagi hidup setiap orang Kristen karena pembaptisan, telah mengubah cara hidup kita.     Bertobat berarti, juga bagi masing-masing kita, percaya bahwa Yesus “telah memberikan dirinya untukku, dengan mati di Salib (bdk. Gal 2:20) dan, setelah kebangkitanNya, hidup bersama dan dalam diriku. Dengan mempercayakan diriku pada kuasa kerahimanNya, membiarkan diriku dituntun oleh tanganNya,   aku dapat lepas dari kubangan kesombongan dan dosa, tipu daya dan kesedihan, kepentingan diri dan rasa aman palsu, untuk memahami dan menghayati keagungan dan kekayaan kasihNya” (sambutan pada Angelus tanggal 25 Januari 2009).

*Beritakanlah Injil kepada segala makhluk.* Yesus memberi mandat kepada kesebelas rasul untuk mewartakan Injil. Kemudian, untuk mengganti kedudukan Yudas Iskariot, yang mengkhianatiNya dan menggantung diri (Mat 27:5), para rasul memilih dan mengangkat Matias (Kis 1:26). Dalam Matius dan Lukas mandat Yesus untuk para rasul adalah mewartakan Injil kepada segala bangsa manusia, εθνη, _ethne_, _gentes_ (Latin) (Mat 28:19-20; Luk 24:46-48). Tetapi, bagi Markus, Injil diwartakan tidak hanya kepada seluruh dunia,  κοσμον, _kosmou_, tetapi juga kepada segala makhluk, παση τη κτισει, _pase te ktisei_, _omni creaturae_ (Vulgata) (Mrk 16:15), tanpa kecuali. Dengan demikian, mandat itu bermakna ambil bagian dalam karya penebusan dan pemulihan seperti pada saat Allah melihat seluruh ciptaanNya baik  (Kej 1: 25); dan ketika Ia melihat manusia sungguh amat baik (Kej 1:31).

Tugas mewartakan Injil, kerasulan, terutama dimandatkan kepada para Rasul dan para pengganti mereka atau uskup, serta seluruh anggota Gereja. Para Bapa Konsili Vatikan II mengajar, “Gereja diciptakan untuk menyebarluaskan kerajaan Kristus di mana-mana demi kemuliaan Allah Bapa … Sebab panggilan kristiani menurut hakikatnya merupakan panggilan untuk merasul juga. Seperti dalam tata-susunan tubuh yang hidup tidak satu pun anggota berifat pasif melulu, melainkan juga beserta kehidupan tubuh juga ikut menjalankan kegiatannya, begitu pula dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja, seluruh tubuh “menurut kadar pekerjaan masing-masing anggotanya mengembangkan tubuh” (Ef 4:16) … Dalam Gereja terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan perutusan. Para Rasul serta para pengganti mereka oleh Kristus diserahi tugas mengajar, menyucikan dan memimpin atas nama dan kuasa-Nya. Sedangkan kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam gereja dan di dunia (Dekrit Kerasulan Awam, _Apostolicam Actuocitatem_, artikel 2).

Pembaptisan menjadi syarat untuk menerima keselamatan yang ditawarkan Allah. Tentang perlunya baptis, Bunda Gereja mengajar, “Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (bdk. Yoh 3:5). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (bdk. Mrk 16:16). Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi” ( _Katekismus Gereja Katolik_, artikel 1257).

*Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya.* Perjanjian Baru mencatat cukup banyak tanda heran yang dibuat para rasul dan murid-muridNya, misalnya : mengusir setan (Luk 10:17); mengusir setan, menyembuhkan yang lumpuh dan timpang (Kis 8:7); berbicara dalam bahasa yang baru (Kis 2:6-11).  Tulisan dan kesaksian tentang tanda heran semenjak Gereja Perdana pun berlimpah ruah hingga saat ini.  Mukjizat semacam ini masih saja terjadi; tetapi sangat jarang. Kalau pun terjadi, pasti sangat istimewa. Santo Hieronimus menulis, “Mukjizat dulu amat penting pada awal mula untuk meyakinkan orang akan iman. Namun, sekali iman Gereja dihayati, mukjizat tidak diperlukan lagi” (Comm. in Marcum).

*Ketekese*: _Kesaksian kita layak dipercaya bila kita hidup setia padaNya_,   Santo Yohanes Chrysostomus, 347-407:

“Paulus benar-benar bersaksi bagi Yesus, dan demikian juga seharusnya para saksi lainnya, melalui apa yang ia lakukan dan apa yang ia katakan. Kita juga harus menjadi saksi yang demikan itu, dan tidak mengkhiana apa yang telah dipercayakan kepada kita. Aku tidak hanya berbicara tentang ajaran, tetapi juga tentang cara hidup kita. Perhatikan, apa yang ia ketahui, apa yang ia dengarkan, ia menjadi saksi atas seluru kebenaran di hadapan semua bangsa; dan tak ada satupun menjadi halangan baginya. Kita juga telah mendengar akan kebangkitan dan sepuluh ribu hal baik lainnya; maka, kita harus bersaksi atas semua hal ini dihadapan segala bangsa. “Pasti kami telah bersaksi,” katamu, “dan percaya.” Bagaimana mungkin bersaksi, karena kita melakukan yang sebaliknya? Katakan padaku, jika seseorang berkata bahwa ia adalah seorang Kristen, tetapi berlaku munafik dan bertindak seperti orang yang tak mengenal Allah; apakah kesaksian orang ini layak dipercaya? Tidak, tidak sama sekali. Karena orang akan mencari kesaksian sejati melalui perilakunya. Demikian juga, jika kita berkata bahwa ada kebangkitan badan dan sepuluh ribu perbuatan baik, tetapi tetap melakukan hal yang tak pantas dan lebih memilih urusan dunia, siapa yang akan percaya pada kita? Bagi semua umat, perhatikan bukan pada yang kita katakan, tetapi pada apa yang kita lakukan. Yesus bersabda, “kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Kita bersaksi bukan hanya untuk para sahabat, tetapi juga untuk mereka yang tidak percaya. Inilah yang harus dilakukan para saksi : mereka harus tidak menarik mereka yang telah mengenal, melainkan mereka yang belum mengenal Tuhan. Mari kita menjadi saksi yang layak dipercaya. Bagaimana kita menjadi layak dipercaya? Melalui hidup yang kita hayati” (dikutip dari _HOMILIES ON THE ACTS OF THE APOSTLES 47_ ).

Pada kita ada tantangan : “Apa yang menjadikan aku enggan menjadi saksi Injil? Atau mengapa aku harus bertobat?”

“Euntes in mundum universum praedicate evangelium omni creaturae” Marcum 16:15

Salve. ac eko wahyono. canisii seminarium. 1982-1986. 081233052768.  ac.eko.wahyono@gmail.com