*Marilah kita  melenyapkannya, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!* Nabi Yeremia, lahir di desa Anatot, utara Yerusalem, dari keluarga imam. Melayani Allah sebagai sebagai nabi dalam kurun waktu 40 tahun, Yeremia mengalami masa keemasan wangsa Daud di bawah Raja Yosia, 639-609, ketika seluruh bangsa, raja dan para imam membaharui iman mereka pada Yahwe.  Namun setelah tahun 609, sang nabi menyaksikan kemerosotan dan, akhirnya, kehancuran wangsa Daud, yang berkuasa selama kurun waktu 443 tahun, 1025-587.  ketika Yerusalem diratakan dengan tanah dan penghuninya dibuang ke Babel.

Sebenarnya Yeremia tidak ingin menjadi nabi. Ia menghendaki kedamaian. Panggilan sebagai nabi pasti menimbulkan aniaya. Tetapi, sulit baginya untuk mengelak dari Allah (Yer 20:7).  Ia bahkan hendak melupakan Allah, tetapi ia tidak mampu melakukannya. “Tetapi apabila aku berpikir, “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya,” maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup” (Yer 20: 9).

Sang nabi mengalami ancaman pembunuhan oleh sanak saudaranya sendiri (Yer 11:18-12:6). Imam Agung Pasyhur memasungnya di pintu gerbang Benyamin (Yer 20:1-6). Ia hendak dibunuh karena mencela umat yang tidak setia kepada Yahwe (Yer 26). Raja Yoyakim menyobek-sobek kitab yang berisi khotbahnya dan membuang ke perapian lembar demi lembar (Yer 36). Selama setahun, 588-587, ketika Yerusalem dikepung, Yeremia ditawan di penjara. Setelah itu, ia dimasukkan ke dalam kolam air, supaya mati, tetapi diselamatkan oleh sida-sida dari Etiopia, Ebed-Melekh (Yer 38). Saat Yerusalem direbut orang Babel, mereka menemukan Yeremia dirantai, menunggu dibuang ke Babel (Yer 44:1-6). Ia sendiri, akhirnya dibuang ke Mesir. Dan menurut legenda, sang nabi wafat di negeri asing dengan cara dirajam oleh orang-orang sebangsanya.

Yesaya menuliskan keluh kesah dan penderitaan batin yang dialami dalam pengakuan yang sangat terkenal (Yer 11:18-12:6; 15:10-12; 17:12-18; 18:18-23; 20:1-18). Ungkapan kesedihan dan derita sang nabi begitu menyayat, “Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita  melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!” (Yes 18:19). Diancam dibunuh oleh siapa saja yang mendengarkan wartanya, Yesaya tidak membalas dendam. Ia membiarkan balas dendam itu menjadi milik Allah, katanya, “Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku” (Yer 18:20). Allah bersabda, “Hak-Kulah dendam dan pembalasan” (Ul 32:35).

*Timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.* Dalam bab 7, Yohanes membenarkan timbulnya pelbagai macam pendapat tentang Yesus di kalangan umat Yahudi. Tak jarang mereka sendiri mengalami kebingungan bila menyangkut Yesus. Sanak saudaraNya memiliki pendapat bahwa Yesus harus menemukan panggung di Yerusalem (Yoh 7:2-5). Orang banyak mengatakan dan memujiNya sebagai orang baik (Yoh 7:12); beberapa mengatakan, “Ia ini benar-benar nabi yang akan datang!”; sedang yang lain lagi mengatakan, “Ia adalah penyesat” (Yoh 7:12). Orang lain lagi mengecamNya sebagai orang yang tidak berpendidikan (Yoh 7:15). Masing-masing pendapat memiliki landasan pikir dan tradisi yang dipegang teguh oleh masing-masing pihak. Mereka berpendapat bahwa Mesias tidak mungkin berasal dari Galilea. Ia harus berasal dari Bethlehem, tempat asal Raja Daud.

Nyatalah bahwa sangat sedikit orang yang benar-benar mampu mengenali Yesus. Padahal kira-kira tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun sebelumnya, beberapa pribadi mampu mengenali siapa Yesus sebenarnya. Mereka adalah Zakharia dan Elizabet, orang tua Yohanes Pembaptis (Luk 1:5-25. 39-56; para gembala domba (Luk 2:8-20); Simeon dan Hana (Luk 2:21-40); tiga orang Majus (Mat 2:1-12); dan Yohanes Pembaptis, yang kesaksiannya mereka tolak (Yoh 1:19-36; 3:22-36). Pengenalan mereka sangat dangkal, karena yang mereka hanya tahu tempat di mana Ia dibesarkan, Nazaret (Mat 2:23).

Hanya Matius yang mencatat bahwa Yesus adalah sama dengan Nabi Yeremia (Mat 16:14). Jemaat Matius rupanya melihat persamaan antara hidup Yesus dengan Nabi Yeremia. Mereka berdua ditolak oleh umat; mengalami banyak kesengsaraan ketika menyampaikan pesan Allah; dan, bahkan, dibunuh dengan kejam.  Mereka berdua juga hidup di babak paling kelam sejarah bangsa terpilih. Nabi Yeremia menyaksikan kehancuran Yerusalem dan pembuangan ke Babel lima setengah abad sebelum Yesus lahir; Yesus menubuatkan kehancuran Bait Allah, yang dipugar Herodes Agung, dan Yerusalem. NubuatNya benar terjadi tahun 70, saat Jenderal Titus meluluh-lantakkan seluruh Israel.

Tentang Yesus, suara Sanhedrin, Mahkamah Agama Yahudi, yang terdiri para tokoh dari kalangan iman, Saduki  dan Farisi, terbelah. Sebelumnya mereka mengutus tentara Bait Allah untuk menangkap Yesus. Tetapi para tentara itu membangkang. Mereka beralasan, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (Yoh 7:46). Maka para pemimpin menuduh bahwa Yesus telah menyesatkan mereka. Tidak hanya itu, para pemimpin buta itu juga menuduh umat sebagai kaum yang bodoh dan tidak mengenal Hukum Taurat. Mereka merasa diri sebagai yang paling tahu akan sabda Allah dan Kitab Suci dan tradisi (Yoh 7:49).

Hanya seorang di antara para pemimpin agama itu masih memiliki akal sehat. Dialah Nikodemus, yang menjumpai Yesus di malam hari untuk bersoal jawab tentang kelahiran kembali (Yoh 3:1-21).  Ia meminta majelis agama untuk mengundang Yesus dan meminta penjelasanNya. Mereka segan melakukan, kendati tahu ketetapan itu (bdk. Ul 18:22-26). Katanya pada mereka, _”Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?”_ (Yoh 7:51).  Tetapi mereka membantahnya, _Numquid et tu ex Galilaea es? Scrutare et vide quia propheta a Galilaea non surgit!_, _”Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea!”_ (Yoh 7:52).  Dan mereka tidak mau berubah pikiran, karena tetap percaya: tidak ada nabi berasal dari Galilea. Mereka menganggap rendah sesama, termasuk Yesus.

Akhirnya, para pemimpin itu lupa untuk mendalami pesan Allah tentang Hamba Yahwe. Mereka luput merenungkan Hamba Yahwe yang menderita dan menang sesuai nubuat Nabi Yesaya (Yes 42: 1-9; 49: 1-6; 50: 4-9; 52: 13-53, 12; 61: 1-2).

Pada kita ada tantangan : Siapakah Yesus? Atau siapakah aku bagi Yesus?

“Numquid et tu ex Galilaea es? Scrutare et vide quia propheta a Galilaea non surgit!” – Ioannem 7:52

Salve. ac eko wahyono. canisii seminarium. 1982-1986. 081233052768.  ac.eko.wahyono@gmail.com