*Pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.* Melalui naskah deutero Yesaya, kitab Yesaya kedua, sang nabi menyingkapkan harapan akan masa depan yang cerah di Sion setelah pembuangan Babel (586-538 SM). Setelah masa pembuangan Allah memulihkan keadaan Sion yang ditinggalkan dan menjadi sunyi senyap. Allah bersabda, _“Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi, untuk mengatakan kepada orang-orang yang terkurung: Keluarlah! kepada orang-orang yang ada di dalam gelap: Tampillah! Di sepanjang jalan mereka seperti domba yang tidak pernah kekurangan rumput, dan di segala bukit gundulpun tersedia rumput bagi mereka. Mereka tidak menjadi lapar atau haus; angin hangat dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air”_ (Yes 49:8-10). Ia juga menjanjikan Sion akan menjadi tempat yang damai dan menaungi seluruh penjuru. Orang akan datang ke tempat damai sejahtera, termasuk dari tanah Sinim, yang sekarang dikenal sebagai wilayah Aswan di Mesir bagian selatan (Yes 49:12).

Sang nabi juga menyingkapkan wajah Allah yang berbelas kasih seperti seorang ibu. Ia tidak akan melupakan anak yang dikandungnya. _Numquid oblivisci potest mulier infantem suum ut non misereatur filio uteri sui? Et si illa oblita fuerit ego tamen non obliviscar tui_,  _“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau”_ (Yes 49:15). Bahkan, setiap nama akan dituliskan di telapak tanganNya (bdk. Yes 44:5).

*Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.* Yesus dituduh melanggar hukum Sabat oleh kaum Farisi dan pemimpin agama di Yesusalem. Orang Yahudi mengira bahwa pada hari Sabat tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan, karena enam hari Allah menciptakan dunia dan berhenti bekerja pada hari ketujuh (Kel 20:8-11). Yesus menanggapi dengan bersabda, “Bapaku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga” (Yoh 5:17). Karena itulah, Yesus juga bekerja, bahkan pada hari Sabat. Bagi Yesus, karya penciptaan belum selesai. Allah terus bekerja, tanpa henti, siang dan malam. Ia menyeleggarakan hidup seluruh kehidupan, termasuk kita. Yesus bekerja bersama Allah meneruskan karya penciptaan, agar setiap makhluk suatu saat nanti dapat memasuki hidup kekal seperti dijanjikanNya. Menanggapi sabdaNya, kaum Farisi dan pemimpin agama Yahudi marah dan berusaha membunuhNya.

*Apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.* Rupanya salah satu tema pokok dalam Injil Yohanes adalah bahwa Yesus mengerjakan apa yang diperintahkan Bapa. Kepada para murid, Ia bersabda, _”Meus cibus est, ut faciam voluntatem eius, qui misit me, et ut perficiam opus eius”_, _“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”_ (Yoh 4:34). Maka, pekerjaan atau perkataanNya selalu bukan berasal dari diriNya sendiri, melainkan dari Bapa (bdk. Yoh 3:34; 8:26; 12:49).  Dan Bapa menunjukkan apa yang dilakukanNya : _“membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya” (Yoh 5:21). Yesus menyadari bahwa apa yang dilakukan selalu merupakan kehendak BapaNya. Maka, Ia menyingkapkan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30).  Oleh sebab itu, Yesus memberi tanda, _semeion_, melalui membangkitkan anak pegawai istana Herodes Antipas di Kapenaum (Yoh 4:46-54); dan Ia memulihkan hidup orang yang menderita kelumpuhan di kolam Betesda (Yoh 5:1-18).

Tentang kebangkitan orang mati, Gereja mengajarkan, : “Yesus menghubungkan iman akan kebangkitan itu dengan pribadi-Nya, “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh 11:25). Pada hari kiamat Yesus sendiri akan membangkitkan mereka, yang percaya kepada-Nya (bdk. Yoh 5:24-25; 6:40); yang telah makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya (bdk. Yoh 6:54). Dalam kehidupan-Nya di dunia ini Yesus telah memberikan tanda dan jaminan untuk itu, waktu Ia membangkitkan beberapa orang mati (bdk. Mrk 5:21-42; Luk 7:11-17; Yoh 11). Dan dengan demikian mengumumkan kebangkitan-Nya sendiri, tetapi yang termasuk dalam tatanan yang lain. Kejadian yang sangat khusus ini Ia bicarakan sebagai “tanda nabi Yunus” (Mat 12:39), tanda kanisah (bdk. Yoh 2:19-22). Ia mengumumkan bahwa Ia akan dibunuh, tetapi akan bangkit lagi pada hari ketiga (bdk. Mrk 10:34) ( *Katekismus Gereja Katolik*, artikel nomor 994).

*Bapa menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.* Di samping membangkitkan orang mati dan menghidupkannya, pekerjaan yang dilakukan Yesus adalah menghakimi. Penghakiman itu telah diserahkan Bapa kepadaNya.  Penghakiman harus dipahami melalui sabda Allah dalam Ul 32:36; Mzm 31:2 : Allah memberi keadilan kepada orang benar. Orang-orang yang dapat bertahan dalam pengadilanNya adalah mereka yang menghormati Anak, karena sama seperti mereka menghormati Bapa (Yoh 5:23); yang mendengar perkataanNya dan percaya kepada Dia yang mengutus Yesus (Yoh 5:24). Yang tidak menghormati Anak dan yang mendengar perkataanNya tetapi tidak percaya sudah menerima penghukuman.

Tentang pengadilan ini, Gereja mengajarkan, “Kristus adalah Tuhan kehidupan abadi. Sebagai Penebus dunia, Kristus mempunyai hak penuh untuk mengadili pekerjaan dan hati manusia secara definitif. Ia telah ‘mendapatkan’ hak ini oleh kematian-Nya di salib. Karena itu, Bapa “menyerahkan seluruh pengadilan kepada putera-Nya” (Yoh 5:22). Akan tetapi, Putera tidak datang untuk mengadili, tetapi untuk menyelamatkan dan untuk memberikan kehidupan yang ada pada-Nya. Barang siapa menolak rahmat dalam kehidupan ini, telah mengadili dirinya sendiril. Setiap orang menerima ganjaran atau menderita kerugian sesuai dengan pekerjaannya; ia malahan dapat mengadili dirinya sendiri untuk keabadian, kalau ia tidak mau tahu tentang cinta” ( *Katekismus Gereja Katolik*, artikel nomor 679).

Pada kita ada tantangan : “Apa yang perlu aku siapkan untuk menyongsong pengadilanNya?”

“Non possum ego a meipso facere quidquam; sicut audio, iudico, et iudicium meum iustum est, quia non quaero voluntatem meam, sed voluntatem eius, qui misit me” – Ioannem 5:30

Salve. ac eko wahyono. canisii seminarium. 1982-1986. 081233052768. ac.eko.wahyono@gmail.com