*Kerajaan Sorga sudah dekat.* Inti Kabar Suka Cita, Injil (Mat 10:7), adalah : _Kerajaan Sorga sudah dekat_, _Appropinquavit regnum caelorum_ .  Yesus mengutus para murid untuk pergi dan berbicara atas namaNya dan melakukan kegiatan pelayanan atas kuasaNya. BagiNya Kerajaan Sorga sudah hadir di sini dan sekarang ini, _hic et nunc_. Kehadiran Kerajaan Allah terjadi pada saat yang penuh rahmat sekarang ini dan di sini, καιρος, _kairos_  (Mrk 1: 15). Ia hadir seperti benih sesawi yang ditaburkan di tanah. Yang dibutuhkan cuma perawatan tanah, siraman air dan pemupukan, agar tumbuh dan berkembang.

Berbeda dengan Yesus, orang tidak mau mengenali dan menyadari tanda kehadirannya (bdk. Luk 17: 21). Kaum Farisi menanti datangnya Kerajaan Sorga hingga seluruh bangsa melaksanakan hukum dengan rinci dan benar. Sedangkan kaum Esseni, yang tinggal sebagai rahib di Qumram, mengharapkan penghancuran total seluruh kuasa jahat, agar, pada saat itulah, Kerajaan Sorga ditegakkan.

Yesus tidak menghendaki para murid yang diutusNya berkhorbat tentang ajaran atau doktrin kegamaan, peraturan keagamaan atau peribadatan yang megah dan meriah. Ia menuntut para murid melakukan apa yang dilakukanNya : menyembuhkan orang sakit; membangkitkan orang mati; mentahirkan orang kusta; mengusir setan-setan. Tindakan konkrit ini bermakna bahwa semua murid Yesus harus mau bekerja, melayani mereka yang disingkirkan dan diabaikan dalam komunitas manusia yang memilih berpihak pada Mamon atau Beelzebul. Dengan memerangi kekuatan dan kuasa setani, penyakit, ketakutan dan penindasan, Yesus mengundang para murid untuk meyakini dimulainya jaman baru sekarang dan di sini : _Datanglah KerajaanMu_; _Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam Sorga_. _Adveniat regnum Tuum; Fiat voluntas tua sicun in caelo et in terra_.

*Berilah salam kepada mereka.* Pemberita Injil hanya diperkenankan membawa damai sejahtera. Mereka hanya memusatkan perhatian bagaimana Warta Gembira menyebar di antara umat mansusia. Para pemberita Injil hanya mengabdi kepada Allah. Mengabdi kepada Allah menjadi wujud nyata spiritualitas “miskin di dalam roh” (Mat 5:3), dan membebaskan dari kerakusan akan emas, perak atau tembaga. Dengan tidak mengikatkan diri pada kerakusan akan harta milik, warta Kabar Gembira tidak menjadi skandal antara salam damai dan ‘salam tempel’, menuntut layanan dengan 30 keping perak (Mat 26:15). Namun demikian, para pemberita Injil harus mendapatkan jaminan hidup wajar dari penerima warta Injil. Para pewarta Injil selalu membutuhkan doa dan dukungan melalui pemberian wajar untuk mendukung karya mereka.

*Katekese*. _Anugerah kuasa untuk berkuasa bersama Tuhan_, Santo Hilarius dari Poitiers, Bapa Gereja, 315-367 :

Seluruh kuasa yang dimilii Tuhan dianugerahkan kepada para Rasul! Mereka yang dipurwarupakan dalam ganbar dan keserupaan dengan Allah dalam Adam sekarang menerima gambar dan kesempurnaan yang sempurna dari Kristus. Mereka telah diberi kuasa yang tidak ada bedanya dengan kuasa yang dimiliki Tuhan. Mereka yang pernah terikat di dunia sekarang menjadi terikat di sorga. Mereka akan mewartakan Kerajaan sorga sudah datang, agar gambar dan keserupaan dengan Allah sekarang didukung dengan kebenaran, sehingga semua orang kudus yang menjadi ahli waris sorga dapat meraja bersama Tuhan. Mereka memiliki kuasa menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, mentahirkan yang menderita kusta dan mengusir setan. Apapun luka dan kehancuran pada tubuh Adam yang disebabkan karena mengikuti bujukan Setan, biarkan para Rasul menghapusnya dengan ambil bagian dalam kuasa Tuhan. Dan agar mereka memperoleh keserupaan yang penuh dengan Allah seperti dinubuatkan dalam Kitab Kejadian, mereka diminta memberikan dengan cuma-cuma apa yang terima dengan cuma-cuma  pula (Mat 10:8). Maka anugerah yang diberikan dengan cuma-cuma harus disebarluaskan pula dengan dengan cuma-cuma ( dikutip dari _Commentary ON MATTHEW_ 10.4)

Pada kita ada tantangan : “Apakah aku benar-benar melakukan pekerjaanNya? Atau apakah aku membebaskan diri dari kerakusan?”

“Infirmos curate, mortuos suscitate, leprosos mundate, daemones eicite.” (Matthaeum 10: 8).

ac eko wahyono. canisii seminarium. 1982-1986. 081233052768. ac.eko.wahyono@gmail.com