*Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.* Derita rohani, emosi dan fisik sering berlangsung bersamaan. Yesus sangat terbiasa dengan orang yang menderita penyakit yang seolah tak tertanggungkan – penyakit fisik, emosional, mental, atau rohani. Dan kepadaNya, dalam bacaan Injil hari ini,  dibawa orang bisu yang kerasukan setan. Dapat dibayangkan betapa para tetangga, sahabat dan kerabat berusaha keras membantu orang itu untuk sembuh dari beban penyakit ganda : ketidak mampuan untuk bicara/berkomunikasi dengan orang lain dan tekanan jiwa/rohani, yang pada saat itu disebut kerasukan. Kondisi seperti ini selalu membebani yang tinggal bersama si sakit dan si sakit itu sendiri siang dan malam. Tak jarang, pengalaman buruk ini menyebabkan orang merasa putus asa, kecewa dan ditinggal Allah.

Melihat penderitaan yang demikian hebat, pada saat yang sama, Yesus membebaskan orang itu dari setan yang menyiksanya dan memulihkan kemampuannya untuk berbicara. Orang-orang yang menyaksikan karyaNya tercengang. Ketika orang mendekati Yesus dengan penuh harapan iman, Ia akan membebaskan dan memulihkan mereka dari pelbagai penyakit tubuh dan jiwa, beban dosa dan salah yang melumpuhkan, tekanan jiwa yang menyiksa atau ketakutan dan kecemasan yang tak terkendali. Saat disembuhkan banyak orang berucap, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Ini sungguh karya Allah!  Namun, sekelompok orang yang mengaku cerdik pandai, kaum Farisi, menuduhNya bertindak atas nama setan. Mereka tidak percaya, karena tidak mengakui Yesus sebagai Mesias, Sang Juruselamat. Mereka berpandangan picik, karena tidak mampu melihat tanda-tanda Yesus sebagai Dia yang diurapi Allah seperti nubuat Nabi Yesaya (bdk. Yes 35:5-6; 61:1; Mat 11:5), _”orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”_, _caeci vident et claudi ambulant, leprosi mundantur et surdi audiunt et mortui resurgunt et pauperes evangelizantur_.

Karya Yesus untuk menolong mereka yang menderita diteruskan oleh GerejaNya. Konsili Vatikan II dalam Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja mengajarkan, “Sesungguhnya cinta kasih kristiani di tujukan kepada semua orang tanpa membeda-bedakan suku-bangsa, keadaan sosial atau agama; cinta kasih tidak mengharapkan keuntungan atau ungkapan terima kasih. Sebab seperti Allah telah mengasihi kita dengan cinta yang suka rela, begitu pula hendaknya kaum beriman dengan kasih mereka memperhatikan sepenuhnya manusia sendiri, dalam gerak yang sama seperti Allah mencari manusia. Maka seperti Kristus berkeliling ke semua kota dan desa sambil melenyapkan segala penyakit dan kelemahan sebagai tanda kedatangan kerajaan Allah (lih. Mat 9:35 dsl; Kis 10:38), begitu juga Gereja melalui para puteranya berhubungan dengan orang-orang dalam keadaan mana pun juga, tetapi terutama dengan mereka yang miskin dan tertimpa kemalangan, dan dengan sukarela mengorbankan diri untuk mereka (lih. 2Kor 12:15)” ( *Ad Gentes*, artikel nomor 12).

*Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan.* Matius menggunakan kata Yunani εσπλαγχνισθη, _esplagchnisthe_, dari kata dasar : _splagchnizomai_, merasa kasihan, berbela rasa, tergerak hati. Dalam versi Latin, Vulgata, diungkapkan _Misertus est eis_. Di dalam hati, inti hidup manusia, termasuk Yesus, tempat pertemuan antara Allah dan manusia, yang ada adalah perasaan bela rasa, turut menanggung derita, _miser_.  Dengan kata lain,  Ia tergerak hatiNya, berbela rasa dan merasa kasihan pada orang banyak, karena mereka seperti kawanan domba tanpa gembala; tiada seorang pun yang memperhatikan kawanan itu. Maka, Yesus bertindak sebagai gembala bagi mereka (Yoh 10:11-14). Sedangkan Matius memandang tindakan Yess sebagai pemenuhan atas nubuat tentang Hamba Yahwe, yang “memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17; bdk. Yes 53:4). Kepada mereka Yesus selalu menyapa agar “dapat memberi semangat kepada orang yang letih lesu” (Yes 50:4). Hatinya juga tergerak oleh belas kasih, ketika Ia memberi makan beribu orang (Mat 15:32).

Yesus juga mengundang setiap pribadi, para muridNya untuk, dengan cara masing-masing, ambil bagian dalam karya penyelamatanNya. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9: 37-38).

*Katekese*. _Kemerdekaan dan Penyembuhan dalam Kristus_, Santo Hilarius dari Poitiers, Bapa Gereja, 315-367 :

“Dalam diri orang tuli dan bisu yang kerasukan setan muncullah kebutuhan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi kesembuhan menyeluruh. Dikepung oleh kemalangan dari segala penjuru, kebutuhan mereka dikaitkan dengan semua jenis kelemahan tubuh. Dalam hal penyembuhan, urutan proses harus diikuti dengan teliti. Iblis pertama-tama diusir; kemudian diikuti proses penyembuhan bagian tubuh lain. Melalui penghapusan atas kebodohan karena takhayul dan penggantian paham dengan iman akan Tuhan, penglihatan dan pendengaran serta kata-kata penyembuhan diucapkan. Menyaksikan tanda heran yang dibuat Yesus, orang banyak itu sangat kagum, seru mereka, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel”. Sesungguhnya, orang yang tidak dapat ditolong oleh hukum Taurat itu disembuhkan oleh kuasa Sang Sabda, dan orang yang tuli dan bisu itu melambungkan puji-pujian bagi Allah. Pembebasan telah diberikan kepada bangsa-bangsa asing. Semua kota dan semua desa diterangi oleh kuasa dan kehadiran Kristus, dan semua orang dibebaskan dari gegala  kesukaran abadi (dikutip dari _ON MATTHEW_  9.10)

Pada kita ada tantangan : “Apakah aku bekerja dengan sungguh dalam karya pelayanan yang dipercayakan padaKu?”

_Videns autem turbas, misertus est eis, quia erant vexati et iacentes sicut oves non habentes pastorem_ – Matthaeum 9: 36

ac eko wahyono. canisii seminarium. 1982-1986. 081233052768. ac.eko.wahyono@gmail.com